Dian Istana G11 No.09

Kota Surabaya - Indonesia

Hubungi Kami

+62 85103332222

Hubungi Kami

info@gdmorganic.com

plankton suplemen pupuk organik

Penyubur Plankton di Kolam Atau Tambak dengan SOC GDM Ikan

(Sumber gambar : allyouneedisbiologi.wordpress.com)

Aktivitas budidaya ikan tidak terlepas dari limbah yang dihasilkan, terutama dari sisa pakan, feses, dan hasil aktivitas metabolisme ikan (Wijaya, 2014). Pada sistem budidaya tanpa pergantian air (zero water exchange) seperti pada kolam air tenang, konsentrasi limbah budidaya seperti amonia (NH3), nitrit (NO2), dan karbon dioksida CO2 akan meningkat sangat cepat dan bersifat toksik bagi ikan (Surawidjaja, 2006). Berdasarkan fakta tersebut, perlu dilakukan proses remediasi tanah tambak/kolam dengan bantuan bakteri pengurai yaitu Bacillus mycoides, B. pumilus, B. brevis, Pseudomonas alcaligenes dan Micrococcus roseus yang terdapat dalam GDM Ikan.

Sebelum dilakukan penebaran benih, persiapan kolam yang perlu dilakukan meliputi pembersihan dasar dan pinggir kolam. Untuk kolam tanah pembersihan dasar ini termasuk pembuangan lumpur, usahakan lumpur yang ada di dasar kolam terbuang sempurna hal ini untuk mengantisipasi mikroorganisme patogen yang masih mengendap dalam lumpur. Untuk kolam terpal dan kolam semen, tahap pembersihan dasar kolam meliputi pembersihan dari lumut dan kebocoran kolam. Pembersihan rumput liar dipinggir kolam diperlukan untuk mengantisipasi hama seperti ular, kepiting dll.

Persiapan kolam budidaya ikan sebaiknya dilakukan dua minggu sebelum kolam dipergunakan. Lakukan perbaikan tanggul dan pintu air untuk meminimalisir kebocoran. Juga perlu pengcekan saluran air baik masuk (inlet) maupun keluar (outlet) dan pemasangan filter/saringan untuk meminimalisir hama/predator yang masuk melalui air.

Baca Juga : Panduan Lengkap Budidaya Ikan Lele

Sebelum dilakukan pengapuran, perlu dilakukan pengukuran pH dengan pH soil tester. Pengapuran dilakukan untuk menaikkan pH minimal 6. Untuk memperbaiki pH tanah dapat digunakan kapur CaOH untuk pH tanah kurang dari 6 atau menggunakan CaCO3 jika pH telah lebih dari 6. Jika tanah kolam/tambak terlalu asam maka akan berakibat pada tingkat kematian ikan/udang tinggi, resiko terhadap penyakit tinggi, penipisan oksigen terlarut akibat terikat mineral.

Setelah pembersihan kolam dan pengapuran, tahap selanjutnya adalah pemupukan. Ketinggian air saat proses pemupukan dngan SOC GDM Ikan adalah 30 cm. Salah satu bakteri SOC GDM Ikan yaitu Pseudomonas alcaligenes memiliki kemampuan untuk merangsang pertumbuhan bakterioplankton (pakan alami) di kolam sehingga tidak perlu menggunakan pupuk kandang lagi. Bakterioplankton yang tumbuh akan di dominasi golongan Chlorophyta (Algae hijau).

Suplemen Organik Cair GDM juga mengandung unsur hara makro dan mikro yang ditambahkan dalam perairan untuk pertumbuhan plankton. Penggunaan SOC GDM adalah salah satu alternatif usaha untuk merangsang tumbuhnya plankton untuk kelangsungan dan pertumbuhan ikan di kolam budidaya. Adanya plankton dalam perairan bermanfaat sebagai pakan alami bagi ikan. Fitoplankton dapat menyerap senyawa yang berbahaya bagi ikan/udang antara lain : NH3, NO2– mengakibatkan kualitas air menjadi baik (Effendi, 1980).

Panduan Super Jitu Cara Budidaya Ikan Mas

Berikut contoh plankton yang akan tumbuh di kolam SOC GDM

 

(Sumber gambar : ilmuhewan.com)

Sedangkan pupuk anorganik unsur haranya tinggi tetapi mudah tercuci sehingga berpotensi mencemari lingkungan (Hardjowigeno, 1987). Selain itu juga, pemberian SOC GDM akan menguraikan senyawa yang komplek menjadi senyawa sederhana, sehingga meningkatkan kualitas air (Soedibya dan Siregar, 2007). Dengan demikian, sangat dianjurkan untuk mengaplikasikan SOC GDM setelah pengapuran kolam dengan dosis 20 Liter/Ha sesuai petunjuk teknis untuk menumbuhkan plankton dan mengurai senyawa di kolam/tambak.

 

Daftar Pustaka :

  • Badrudin. 2014. Better Management Practices, Budidaya Udang Vannamei Tambak Semi Intensif dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Seri Panduan Perikanan Skala Kecil.WWF-Indonesia.
  • Effendi, M.I., 1980. Biologi Perikanan, Manajemen Sumber Daya Perairan. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 163 hal.
  • Hardjowigeno, S., 1987. Ilmu Tanah. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta
  • Soedibya, P. H.T dan A. S. Siregar. 2007. Evaluasi Penggunaan Pupuk Biostimulan Sebagai Upaya Pengkayaan Pakan Alami dan Percepatan Tumbuh Ikan Gurami (Oshphronemus gouramy) in Hatchery Pond. Journal. Ichthyos 7(1) : 37-44.
  • Surawidjaja, E.H. 2006. Akuakultur berbasis “trophic level”: Revitalisasi Untuk Ketahanan Pangan, Daya Saing Ekspor, dan Kelestarian Lingkungan. Orasi Guru Besar Tetap Ilmu Akuakultur.
  • Wijaya, O., Rahardja., B. S dan Prayogo. 2014. Pengaruh padat Tebar Ikan Lele terhadap Laju Pertumbuhan dan Survival Rate pada Sistem Akuaponik. Jurnal. Ilmiah Perikanan dan Kelautan 6 (1) : 55-58.
No Comments

Post a Comment

Comment
Name
Email
Website