Dian Istana G11 No.09

Kota Surabaya - Indonesia

Hubungi Kami

+62 85103332222

Hubungi Kami

info@gdmorganic.com

Cara Budidaya Belut Dengan Metode GDM Yang Terbukti Mempercepat Panen

Cara Budidaya Belut Dengan Metode GDM Yang Terbukti Mempercepat Panen

Cara budidaya belut yang telah terbukti dapat mempercepat panen. Mulai dari penyiapan tempat budidaya, pemilihan bibit belut, pakan belut, hingga cara pemanenan belut. Semua akan kami bahas secara detail pada panduan artikel berikut.

 

Budidaya belut sawah (Monopterus albus) saat ini mulai berkembang pesat. Hal ini tidak terlepas dari kandungan gizi belut yang cukup tinggi, selain itu cara budidaya belut tidak terlalu ribet jika dibandingkan dengan budidaya jenis ikan lainnya.

 

Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat terhadap belut, maka diperlukan usaha intensifikasi dan pembaharuan pola usaha budidaya belut. Salah satu usaha intensifikasi budidaya belut yaitu dengan menggunakan probiotik suplemen organik cair GDM spesialis ikan dan GDM Black BOS.

 

Cara budidaya belut secara intensif dengan menggunakan metode GDM ini adalah :

 

1. Cara Budidaya Belut Dimulai Dengan Lokasi Budidaya

belut sawah

Sesuaikan budidaya belut dengan habitat aslinya

Cara budidaya belut yang pertama dimulai dengan menyesuaikan lokasi budidaya belut dengan habitat aslinya di alam. Dengan menyesuaikan lokasi budidaya belut sesuai habitat aslinya, maka akan dapat dipastikan belut dapat tumbuh secara maksimal.

 

Dengan begitu cara budidaya belut akan mendapatkan hasil panen yang melimpah.

 

Berikut syarat lokasi budidaya belut :

  1. Ketinggian lokasi budidaya belut yaitu berada di ketinggian 0 – 1200 M dpl.
  2. Suhu air ideal 25 – 32°C
  3. pH air 6 – 9
  4. Kadar Oksigen (O₂) terlarut 3 – 5 ppm
  5. Kadar Karbondioksida (CO₂) terlarut 5 – 15 ppm

 

2. Siapkan Tempat Untuk Budidaya Belut

Setelah dulur-dulur memahami syarat lokasi budidaya belut, maka langkah selanjutnya yaitu menyiapkan tempat untuk ternak belut. Dalam budidaya belut, terdapat 3 pilihan jenis kolam yaitu drum, kolam terpal, dan kolam tembok.

 

Semua pilihan ini tentu saja memiliki keuntungan dan kelemahan yang berbeda-beda.

 

A. Drum

kolam drum

Cara budidaya belut di kolam drum

Kolam drum merupakan kolam belut yang semi permanen. Yang artinya, drum yang digunakan untuk budidaya belut akan mengalami kerusakan lebih cepat daripada menggunakan kolam tembok atau terpal.

 

Namun kolam drum ini cukup mudah untuk dibuatnya, berikut adalah langkah-langkah membuat kolam drum :

1. Bersihkan drum hingga bersih (terutama bagian dalam drum)
2. Membuat lubang memanjang dibagian atas drum
3. Taruh drum di tanah yang datar, kemudian kasih pengganjal dibagian kiri dan kanan. Agar drum tidak terguling.
4. Buatlah saluran pembuangan dibawah drum
5. Buatlah peneduh di atas drum, yang bertujuan untuk melindungi belut dari sengatan sinar matahari.

 

Agar pertumbuhan lebih maksimal, maka dalam 1 drum bisa diisi 2kg bibit belut dengan ukuran bibit belut 10-12cm.

 

B. Kolam Terpal

kolam terpal

Cara budidaya belut di kolam terpal

Penggunaan kolam terpal ini sangat fleksibel dan efisien, karena kolam terpal dapat dibangun dimana saja dan dapat dengan mudah dibongkar pasang.

 

Pembuatan kolam terpal ini tidak membutuhkan banyak biaya, hanya dengan membeli terpal, bambu atau kayu sebagai penyangganya, serta perlengkapan lainnya. Berbeda dengan pembuatan kolam tembok permanen yang membutuhkan biaya lebih mahal.

 

Meski hanya berbahan terpal, kekuatan kolam terpal sudah teruji dan bisa dikatakan awet. Kolam terpal sendiri mampu bertahan 1 hingga 2 tahun, tergantung dari kualitas bahan terpal dan perawatan kolam saat budidaya belut.

 

Dalam budidaya belut, ukuran kolam terpal harus disesuaikan dengan jumlah belut. Ukuran idealnya yaitu 50 hingga 100 ekor belut per meter perseginya.

 

Jangan lupa juga, untuk membuat saluran pembuangan air pada kolam terpal.

 

C. Kolam Tembok

kolam tembok

Cara budidaya belut di kolam tembok

Kolam tembok merupakan kolam permanen yang dibangun dengan menggunakan semen atau batako. Untuk membangun kolam tembok ini membutuhkan biaya yang lumayan tinggi jika dibandingkan dengan drum ataupun kolam terpal.

 

Namun, kolam tembok tahan terhadap kebocoran akibat hewan perusak kolam, serta dapat memudahkan dulur-dulur untuk mengontrol air dan hewan pengganggu.

 

Sama seperti halnya kolam terpal, ukuran idelnya kolam tembok yaitu disesuaikan dengan jumlah belut, yaitu 50 hingga 100 ekor belut per meter perseginya. Jangan lupa untuk membuat sistem pembuangan air pada kolam tembok ya lur.

 

 

3. Buat Media Tumbuh Budidaya Belut

media tanam belut

Setelah memutuskan untuk menggunakan jenis kolam yang digunakan dalam budidaya belut. Maka langkah selanjutnya dalam budidaya belut yaitu dengan menambahkan media pertumbuhan untuk belut.

 

Media tumbuh belut merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi pertumbuhan belut. Media tumbuh belut ini dimasukan ke dalam kolam.

 

Pada umumnya, media tumbuh belut terdiri dari :

  • Jerami
  • GDM Black Bos
  • Pupuk Organik Cair GDM Spesialis Ikan
  • Kompos
  • Pupuk TSP (Triple Super Phosphate)
  • Tanah lumpur
  • Air Bersih
  • Eceng Gondok (Alternative)

 

Berikut cara membuat media tumbuh belut :

  1. Lapisi dasar kolam dengan menggunakan jerami (tebal jerami kurang lebih 20cm)
  2. Gunakan GDM Black BOS secara merata, dengan dosis 2 tutup botol/M².
  3. Setelah itu, berikan lapisan kompos dengan tepat 5cm.
  4. Taburkan campuran Pupuk TSP 1kg/M²
  5. Kemudian tutup dengan menggunakan lumpur kering (ketebalan 25cm).
  6. Masukan air bersih ke dalam kolam dengan ketinggian 20cm.
  7. Berikan Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Ikan dengan dosis 6ml/m2
  8. Biarkan kolam yang berisi media tumbuh selama kurang lebih 14 hari untuk proses fermentasi.
  9. Masukan Eceng Gondok diatas kolam

 

Fungsi GDM Black Bos sebagai pengganti desinfektan pada persiapan kolam, mempercepat proses fermentasi media organik, mencegah hama penyakit melalui media. Sedangkan fungsi suplemen organik cair GDM Spesialis Ikan yaitu untuk menjaga kualitas air dan dapat menumbuhkan pakan alami belut.

 

Setelah dulur-dulur membuat media tumbuh belut, jangan lupa untuk menutup rapat kolam agar proses fermentasi berjalan lancar.

 

4. Pilihlah Bibit Belut Yang Baik

bibit belut

Setelah kolam belut terfermentasi dengan baik, maka langkah selanjutnya dalam budidaya belut yaitu dengan memilih bibit belut. Namun jangan sembarangan dalam memilih bibit belut, ada beberapa hal yang perlu dulur-dulur perhatikan dalam ternak belut, yaitu :

 

A. Bibit Belut Bebas Luka

Hal utama dalam memilih bibit belut yang baik yaitu pilihlah bibit belut yang terbebas dari luka. Baik luka lecet karena gesekan, ataupun luka karena penyakit. Karena luka pada belut ini dapat menular ke belut yang lainnya.

 

B. Belut Tidak Lemas Saat Dipegang

Setelah memilih belut yang bebas luka, langkah selanjutnya yaitu memilih belut yang tidak lemas saat dipegang. Jika bibit belut lemas ketika dipegang, maka dapat dipastikan bibit belut tersebut memiliki daya tahan yang lemah.

 

Dengan memilih bibit belut yang kuat / tidak lemas, diharapkan belut akan bertahan hingga dewasa dan siap untuk dipanen.

 

C. Pilih Belut Yang Lincah

Pilihlah bibit belut yang lincah, karena pada dasarnya belut memiliki sifat dasar yang agesif bahkan ketika belut tersebut kita pegang, belut akan berusaha untuk melepaskan diri.

 

Belut yang baik memiliki ciri-ciri yang tenang namun lincah.

 

D. Ukuran Bibit Belut Yang Seragam

Ukuran bibit belut yang seragam ini cukup penting. Karena dengan ukuran bibit belut yang seragam, maka tidak akan adanya dominasi dalam makan.

 

Jika ukuran bibit belut tidak seragam, maka yang belut yang besar akan mendominasi makanan. Hal ini akan membuat belut yang besar akan menjadi semakin besar, dan yang kecil akan menjadi kecil.

 

5. Tebar bibit Belut

Setelah dulur-dulur mendapatkan bibit belut yang sesuai dengan kriteria diatas, maka langkah selanjutnya yaitu menebar bibit belut. Saat melakukan tebar bibit belut, usahakan kapasitas kolam sesuai dengan jumlah bibit belut yang akan ditebar.

 

Bila kapasitas kolam tidak sesuai dengan jumlah tebar bibit belut, maka pertumbuhan belut akan lambat dan air akan cepat rusak. Berikut jumlah tebar bibit belut sesuai dengan jenis kolam :

 

Jenis KolamJumlah Bibit
Drum200-400 bibit
Kolam Terpal50-100 bibit /m2
Kolam Tembok50-100 bibit/m2

Dulur-dulur bisa melakukan tebar bibit belut kedalam kolam pada pagi hari ataupun sore hari menjelang malam, karena suhu lingkungan sekitar kolam pada saat itu sudah dingin dan sejuk. Suhu dingin dan sejuk inilah yang membuat bibit belut tidak mudah stres.

 

Lakukan penebaran bibit belut secara perlahan agar belut tidak mengalami stres dan mati.

 

6. Perawatan Belut

Setelah dulur-dulur melakukan penebaran bibit belut, maka cara budidaya belut berikutnya yaitu proses merawat belut.

 

Ada 3 hal yang perlu dulur-dulur lakukan dalam budidaya belut, yaitu :

 

A. Pengaturan Air Kolam

Pastikan air kolam memiliki kadar oksigen yang terjaga, serta kadar pH air kolam diantara 6-9. Atur juga sirkulasi air kolam dengan baik, atur seperti genangan pada habitat aslinya yaitu genangan air sawah.

 

Kemudian atur kedalam air kolam dengan ketinggian 20cm. Jangan terlalu dalam memberi air pada kolam, hal ini akan berpengaruh pada postur tubuh belut.

 

Air yang terlalu dalam dapat membuat belut lebih banyak bergerak untuk mengambil napas, sehingga pertumbuhan belut tidak akan maksimal.

 

B. Berikan Pakan Belut

Salah satu cara budidaya belut yang dapat memberikan hasil maksimal yaitu pemberian pakan secara tepat. Pemberian pakan yang tepat pada belut, akan dapat membuat budidaya belut menjadi lebih maksimal.

 

Pakan alami belut yang baik untuk pertumbuhan belut yaitu zooplankton, maggot/belatung, cacing tanah dan ikan-ikan kecil. Lakukan pemberian pakan dengan dosis 5-20% dari dosis bobot belut/hari, pemberian pakan ini dilakukan satu kali sehari yaitu pada sore hari.

 

Selain pakan alami, dulur-dulur juga harus memberikan pakan tambahan berula pellet yang diberikan 1x sehari dengan dosis 5% dari bobot belut/hari. Pellet harus disemprot dengan menggunakan Suplemen organik cair GDM spesialis ikan dengan dosis 10ml/kg pakan.

 

Dengan menggunakan suplemen organik cair GDM yang disemprotkan pada pellet, maka dapat meningkatkan kecernaan pakan dan penyerapan nutrisi pada pakan.

 

Usahakan pemberian pakan ini tercukupi ya lur, karena kalau tidak belut akan menjadi kanibal.

 

C. Berikan Suplemen Organik

Berikan suplemen organik cair GDM Spesialis Ikan yang bertujuan untuk menjaga kualitas air dan dapat menumbuhkan pakan alami belut. Dosis penggunaan Suplemen organik cair GDM ini yaitu 10ml/m² dengan interval seminggu sekali.

 

Cara penggunaan suplemen organik cair GDM pada budidaya belut yaitu dengan cara dicampurkan langsung pada kolam belut.

 

7. Proses Panen Belut

Waktu panen belut inilah yang ditunggu dulur-dulur semua. Belut sebenarnya tidak memiliki ukuran dan masa panen, karena semua tergantung dari permintaan pasar.

 

Namun pada umumnya waktu panen belut yang tepat adalah saat belut berumur 3 – 4 bulan atau beratnya berkisar antara 200 – 300 gram/ekor.

 

Namun, jika dulur-dulur melakukan cara budidaya belut sesuai dengan apa yang kami jelaskan diatas dan tidak terkendala apapun maka berat belut saat panen bisa mencapai 400 gram/ekor hanya dalam waktu 3 bulan.

 

Demikianlah cara budidaya belut yang terbukti dapat meningkatkan dan mempercepat hasil panen. Jika dulur-dulur ada kendala dalam proses budidaya belut, silakan kita diskusikan bareng melalui kolom komentar, livechat, ataupun whatsapp.

 

Salam Go Organik Indonesia.

cara budidaya belut
  • Readers Rating
  • No Rating Yet!
  • Your Rating


No Comments

Ada pertanyaan atau komentar?